Biasanya anak berbakat yang cacat lebih dikenal karena kecacatannya bukan karena keberbakatannya. Padahal kecacatan tidak menghalangi keberbakatan seseorang. Namun dengan memberi label seorang anak sebagai “anak cacat” kita lebih terfokus dengan kebutuhan pendidikannya menyangkut kecacatannya dan kurang melihat bakatnya.
Sub-sub dibawah ini akan membahas kebutuhan dan masalah anak berbakat yang cacat. Bagaimana memahami mereka dan hal-hal yang dapat dilakukan untuk memenuhi kebutuhan pendidikan mereka.
1. Kebutuhan Anak Berbakat yang Cacat
Golongan anak cacat di Indonesia meliputi:
a. Tunanetra
b. Tunarungu
c. Tunadaksa
d. Tunagrahita
e. Tunalaras
f. Tunaganda
g. Anak berbakat
Dari penggolongan ini hanya anak keterbelakangan mental (tunagrahita) yang menghambat berbagai bentuk keberbakatan. Namun, beberapa peneliti menunjukkan bahwa anak cacat dan anak dengan gangguan emosi berat dalam kelas terpadu (mainstreaming) sering dinilai “paling tidak disukai” di dalam kelas . Burton dan Hirshoren menemukan bahwa semakin besar kecacatan anak , semakin besar tinggat penulakan sosial. Terkadang siswa yang cacat diperlakukan kasar / mendapat ejekan oleh siswa lain, dan terjadilah eksekusi sosial dan merasa tertekan, maka kepercayaan diri dan harga diri akan sulit tumbuh.
Padahal diantara anak cacat tidak sedikit yang memiliki intelektual tinggi dan bahkan mereka bisa memberikan sumbangan bermakna kepada masyarakat. Diantara orang cacat yang terkenal karena keberbakatan dan kreativitasnya antara lain Ludwig Van Beethoven (komponis), Thomas Edison (inventor), Vincent Van Gogh (pelukis) dan masih banyak lagi.
2. Identifikasi Anak Berbakat yang Cacat
Mengidentifikasi anak berbakat yang cacat tidaklah mudah, masalahnya adalah karena bakat mereka yang tidak terlihat oleh guru. Mereka lebih dikenal dengan kelemahannya bukan Karena kekuatan atau kelebihan mereka. Dan masalah lain adalah bahwa kecacatan dapat menghalangi bakat dan talentnya. Misalnya; kebutaan, ketulian dan ketidak mampuan belajar dapat mengakibatkan lambatnya perkembangan mereka dan berpengaruh pada skor IQ yang terbilang rendah.
Untuk identifikasi yang tepat diperlukan observasi berkelanjutan. Prosedur identifikasi dapat meliputi tes intelegensi, kreativitas, dan prestasi belajar, dapat pula digunakan skala Renzulli – Hartamann (bab 3), maka indikator yang baik untuk keberbakatan menurut Renzulli-Hartamann adalah:
· Mempunyai gudang informasi yang besar mengenai berbagai topik (diluar minat yang biasa dimiliki anak seumurnya).
· Memiliki wawasan mengenai hubungan sebab-akibat; mencoba menemukan bagaimana dan mengapa mengenai suatu hal; mengajukan berbagai pertanyaan yang merangsang untuk berfikir.
· Merupakan pengamat yang cermat dan waspada.
Butir-butir yang baik dari skala motivasi ialah:
· Menjadi sanggat terlibat dalam topik atau masalah tertentu; tekun dan ulet dalam menyelesaikan tugas.
· Lebih suka bekerja sendiri; tidak memerlukan banyak pengarahan dari guru.
Untuk membantu identifikasi anak cacat yang berbakat, Maker menganjurkan bahwa:
a) Anak cacat harus dibandingkan dengan anak lain yang memiliki kecacatan yang sama.
b) Ciri-ciri yang memungkinkan anak cacat dapat mengimbangi kecacatnnya secara efektif harus ditimbang secara seksama.
3. Program bagi Anak Berbakat yang Cacat
Program untuk anak berbakat dan bertalenta (B/T) pertama-tama melihat anak itu sebagai anak yang berbakat, namun yang membutuhkan bantuan khusus karena kecacatannya. Yang harus ditekankan adalah pengenalan bakat anak dan mendorong kekuatan anak.kedua adalah untuk menjaga agar kecacatannya tidak menghambat perkembangan dan ungkapan bakatnya.
4. Mengurangi Keterbatasan Komunikasi
Semua orang cacat perlu mengimbangi (kompensasi) sebaik mungkin dari kecacatan yang mereka miliki. Disekolah mereka harus bisa mengamati, merespons, dan mengungkapkan diri mereka, singkatnya mereka harus mampu berkomunikasi. Guru pendidikan regular, dan pendidikan luar biasa harus dapat menyediakan alat bantu teknologi dan pelatihan khusus dengan harapan anak berbakat yang cacat dapat mengembangkan bakat dan kemampuan yang terdapat pada diri mereka.sarana prasarana yang harus ada antara lain; seperti kursi roda, alat bantu pendengaran, membaca bibir, bahasa lambing, pelatihan dan bacaan braile, kaki dan tangan palsu, dan komputer mikro.
Beberapa alat bantu komunikasi mempunyai efek awalmemperlambat reaksi, belajar, dan berfungsi kognitif. Namun jika alat bantu komunikasi tersebut terkuasai maka anak cacat mempunyai potensi yang meningkat dalam prestasi dan ungkapan kreatif. Namun penggunaan alat bantu tidak dapat dipaksakan, ada beberapa anak yang mampu mewujudkan bakat dan talentnya tanpa menggunakan alat bantu teknologis. Misalnya seorang pemuda yang tidak mempunyai kedua tangan mendemonstrasikan kebolehannya diatas panggung. Berbagai kegiatan dapat ia lakukan dengan tanpa menggunakan tangan dan tanpa bantuan siapapun. Ia dapat bermain gitar, piano, bahkan drum dengan jari-jari kakinya. Tentunya dengan latihan yang tekun ia dapat melakukan itu semua.
Pertunjukkan itu sanggat mengesankan dan mengingatkan kita bahwa yang terpenting ialah kebutuhan individu dan dengan cara-cara apa menurut dia sehingga kebutuhannya dapat dipenuhi dan memuaskan. Dan bukan bagaimana sebaiknya menurut pendidik.
5. Perkembangan Konsep Diri
Penolakan orang lain, pemberian label, harapan yang rendah dari guru, dan perasaan bahwa dirinya berbeda itu adalah hal yang membuat anak berbakat yang cacat merasa kurang mampu dan kurang berarti dibandingkan anak lain.
Prestasi akademik dan kreativitas mereka akan sebaik anak lain jika harapan tinggi terhadap anak berbakat yang cacat dan hambatan komunikasi dihilangkan. Melalui tantangan prestasi tinggi, anak-anak ini dapat mengembangkan konsep diri yang positif yang sanggat mereka butuhkan untuk pengembangan diri mereka.
a. Keterampilan Sosial
Anak cacat perlu belajar dari situasi nyata, khususnya dalam kehidupan sosial mereka. Anak berbakat yang cacat membutuhkan kegiatan sosial dengan anak yang cerdas dan kreatif dengan kecacatan yang sama, serta mempunyai tujuan dan minat yang sama.
b. Taktik di dalam Kelas
Beberapa strategi dapat meningkatkan kontak dan perasaan positif antar kelompok siswa yang berbeda. Misalnya tim belajar campuran. Dimana semua kelompok anggota harus bekerja sama, dapat meningkatkan sikap dan persahabatan antar kelompok. Karena kerjasama dan saling ketergantungan adalah kunci keberhasilan.
c. Mendorong Belajar Mandiri
Anak cacat kadang-kadang terus bergantung pada perhatian dan umpan balik positif untuk mendorong belajar mereka. Padahal ketergantungan tersebut akan membatasi motivasi dan prestasi mereka. Oleh sebabitu siswa cacat harus didorong untuk mengembangkan motivasi intrinsik dengan belajar dan menerima keberhasilan sebagai imbalan bagi mereka sendiri, dan kemampuan untuk belajar sendiri.
6. Keterampilan Berfikir Tingat Tinggi
Anak berbakat yang cacat perlu diberi metode-metode yang mendorong perkembangan keterampilan seperti kreativitas, pemecahan masalah, berfikir kritis, klasifikasi, generalisasi, analisis, sintesis, dan evaluasi. Memupuk perkembangan keterampilan ini amat penting pada program bagi anak berbakat yang cacat.
0 comments:
Post a Comment