My Perception

  • Subscribe to our RSS feed.
  • Twitter
  • StumbleUpon
  • Reddit
  • Facebook
  • Digg

Sunday, 22 April 2012

KARAKTERISTIK KEPRIBADIAN YANG MENYEBABKAN ANAK KURANG BERBAKAT

Posted on 02:57 by Unknown


Kalian tahu yang namanya bakat? Yup, bakat itu kemampuan manusia yang berasal dari genetikal. Namun ngga semata-mata bakat bakal berkembang menjadi sesuatu yang berprestasi. Harus ada faktor lain yang menunjangnya loh. Nah kalo dibawah ini adalah kebalikannya, berikut karakteristik pribadi anak yang menyebabkannya kurang berprestasi:

1.     Perfeksionisme
Dorongan dalam untuk mencapai kesempurnaaan membuat siswa berbakat tidak puas dengan prestasinya yang tidak dapat memenuhi tujuan-tujuan pribadinya . dorongan akan kesempurnan ini mendorong anak berbakat hanya mau memilih kegianatan tertentu  jika ia yakin akan berhasil . kritik dalam diri sendiri yang berlebih dan taraf aspirasi yang tidak realistis membuat anak berbakat diliputi rasa tidak mampu.

2.      Kepekaan yang berlebih (supersensitivity )
Sistem saraf yang supersensitif dari anak berbakat membuatnya lebih peka dalam pengamatan , menanggapi dirinya dan lingkungan secara analitis dan kritis , sehingga ia mudah tersinggung dan mempunyai perasaan seperti dikucilkan . anak kecil berbakat sering digambarkan sebagai anak yang hiperaktif yang perhatiannya mudah beralih.

3.     Kurang Keterampilan Sosial
Ada anak berbakat yg sulit menyesuaiakan dirinya dengan lingkungan sosialnya; mereka lebih banyak menyendiri dan dapat dihingggapi rasa kesendirian dan kesunyian . dilain pihak ada pula anak berbakat yang ingin menjadi pemimpin dan populer , hal ini dpaat mengarah ke kecenderungan untuk mendominasi kelompoknya.
Sosialisasi dini dari anak berbakat sangat penting bagi perkembangan mereka sebagai pemimpin masa depan . mereka memerlukan bimbingan orang dewasa untuk membantu mereka bagaimana berperan serta sebagai anggota kelompok , dismaping juga memenuhi kebutuhan pribadi mereka.





Di bawah ini kondisi lingkungan yang dapat menyulitkan anak berbakat:

1.      Isolasi sosial
Karena kurang memahami ciri-ciri dan kebeutuhan anak berbakat, orang dewasa dalam sikap dan perilaku mereka dapat menunjukan sentimen atau penoakan anak berbakat.
Demikian pula kelompok sebaya dapat memberi tekanan terhadap anggota kelompok yang menyimpan dari mayoritas , Yang kreatif dan berbakat . kondisi ini dapat menyebabkan anak berbakat megalami isolasi sosisal.

2.      Harapan yang Tidak Realistis
Harapan atau tuntutan yang teidak realistis terhadapa anak berbakat dari pihak orang tua atau orang dewasa lainnya dapat terjadi karena dua hal :
a.      Kecenderungan untuk menggeneralisasikan sehingga anak berbakat diharapkan/dituntut menonjol dalam semua bidang .
b.      Pelibatan ego orang tua atau guru terhadap keberhasilan anak (ingin merasa bangga atas prestasi anak ).

3.      Tidak Tersedia Pelayanan Pendidikan yang Sesuai
Ketidak pedulian terhadap kebutuhan anak berbakat dan penolakan terhadap hal-hak mereka menyebabkan masyarakat  kurang memberikan kesempatan pendidikan yang sesuai bagi anak berbakat . Akibatini berarti anak berbakat harus menyelesaikan pendidikan formal mereka dalam sekolah yang lebih menenkan kan komformitas terhadap “yang rata-rata” . dalam iklim sosial ini anak berbakat dapat merasa tidak nyaman sebagai seorang yang “berbeda”  hal ini mempunyai dampak negatif terhadap kesehatan mentalnya maupun terhadap pertumbuhan dan perkembangannya secara menyeluruh .


Semoga bermanfaat, hargai hasil karya orang, budayakan post comment.
Read More
Posted in Psikologi | No comments

UNDERACHIEVEMENT (Anak Kurang Berbakat)

Posted on 02:40 by Unknown
Latar Belakang

Anak tidak dilahirkan sebagai underachiever. Berprestasi di bawah taraf kemampuan adalah perilaku yang dipelajari, oleh karena itu juga dapat dihindari. Underachievement dapat dipelajari di rumah, maupun di sekolah ataupun di masyarakat.


1.      Latar Belakang Keluarga

Jika latar belakang keluarga anak berbakat berprestasi kurang dibandingkan dengan keluarga anak berbakat berprestasi, akan nyata beberapa karakteristik. Beberapa karateristik ini sulit dirubah, seperti keluarga dengan moral rendah atau keluarga yang terpecah. Tetapi beberapa mudah diubah oleh orang tua yang peduli dan memahami dinamika underachievement.

a.      Identifikasi dan Model
Studi Terman dan Oden (dikutip Rimm, 1985) menunjukan bahwa kebanyakan anak berprestasi kurang adalah anak laki-lakidan karakteristik dari anak laki-laki ini ialah bahwa mereka tidak mengidentifikasi diri dengan ayah mereka. Intinya Rimm menyatakan, bahwa anak berprestai kurang sering tidak mengidentifikasikan dirinya dari orang tua dari jenis kelamin yang sama.
Anak cenderung untuk mengidentifikasi diri dengan orang tua yang sangat naturant. Antara orang tua dan anak ada hubungan kasih sayang dan hangat. Jika orang tua itu tidak menekankan prestasi, maka anak dapat mengadopsi sikap yang sama.
Secara keseluruhan dapat disimpulkan pentingnya identifikasi dengan model orang tua yang baik sebagai faktor keluarga yang menunjuang prestasi tinggi.

b.      Indentifikasi Berbalik (Counter-Identification)
Counter identification terjadi apabila orang tua mengidentifikasikan dirinya kepada anak. Sebagai contoh ialah orang tua yang sangat memerhatikan, mengikuti, dan ikut merasakan segala upaya, keberhasilan dan kegagalan anak. Hal ini memang dapat berpengaruh positif, namun juga dapat berpengaruh negatif, yaitu anak menjadi tergantung dengan bantuan orang tua. Apabila anak mendapat kesulitan, dengan hanya sedikit mengeluh orang tua akan membantu pekerjaan anak. Anak mungkin saja tidak memahami tugasnya, saat orang tuanya membantu, anak menjadi merasa bahwa pekerjaan akan selesai dengan mudah bila terus meminta bantuan kepada orang tua. Seiring waktu anak mendapat kesulitan dalam mengerjakan tugas, dan anak akan selalu membutuhkan bantuan orang tua dalah segala urusannya. Hal ini yang akan membuat anak kehilangan kepercayan dirinya sendiri dalam berprestai.

·         Kemungkinan lain dari counter identification ialah bahwa orang tua memberikan kekuasaan berlebih pada anak berbakat mereka, sehingga anak menjadi manipulasi agresif. Anak berbakat yang tampak begitu cerdas menggunakan kemampuan mereka dalam memainkan kosakata layaknya orang dewasa dan orang tua berinteraksi dengan mereka seperti orang dewasa. Anak jadi belajar memanipulasi orang tua dan guru dengan mengatakan bahwa pekerjaan yg harus dilakukan itu tidak penting dan membosankan.

2.      Latar Belakang Sekolah

Beberapa kondisi pribadi dan sekolah dapat menimbulkan masalah bagi anak berbakat yang merupakan awal dari pola prilaku berprestasi di bawah taraf kemampuan.

a.      Iklim Sekolah

·         Kelas yang tidak fleksibel
Anak berbakat intelektual belajarnya lebih cepat dan lebih mudah memadukan informasi. Namun guru yang kaku berpegangan pada jadwal yang telah disusun dan tidak memberikan kesempatan pada mereka yang berbeda dalam kecepatan gaya belajar. Jika cepat dalam menyelesaikan tugas maka siswa akan diberikan tugas baru lagi. Di sini siswa merasa apabila mengerjakan tugas dengan cepat akan mendapat hukuman berupa tugas baru. Oleh karena itu siswa yang berbakat memilih untuk bekerja lebih lambat dan menyelesaikan tugas bersamaan dengan teman-teman yang lain. Namun karena pemikirannya tetap aktif, siswa berbakat ini mencari kesibukan lain dengan membaca buku-buku selain buku pelajaran reguler. Ia juga kurang memperhatikan materi yang disampaikan guru karena dianggapnya membosankan.

·         Kelas yang kompetitif
Sangat mendorong kompetisi dalam kelas. Anak yang berprestasi kurang paling merasakan dampak dari persaingan ketat ini. Setiap hari mereka berpikiran bahwa mereka tidak dapat memenuhi standar keunggulan di dalam kelas. Guru hanya menghargai prestasi. Karena anak-anak tersebut sudah terlanjur tidak percaya diri bahwa mereka bisa menjadi yang teratas akhirnya mereka hanya bersikap defensif untuk mempertahankan diri. Mereka hanya memikirkan nilai standar dan tidak memiliki sifat aktif untuk meraih peringkat yang lebih tinggi.

b.      Harapan Negatif
Harapan guru mempunyai dapak terhadap konsep diri dan prestasi siswa. Apabila guru memiliki harapan rendah terhadap seorang siswa, biasanya anak itu akan berprestai kurang, termasuk anak berbakat. Anak berbakat berprestasi kurang yang konsep dirinya rendah, pada umumnya melihat harapan guru yang negatif sebagai konfirmasi bahwa ia memang tidak mampu.

c.       Kurikulum yang Tidak Menantang
Anak berbakat dengan kebutuhan intelektual dan kreatif amat rantan terhadap kurikulum yang tidak menantang. Jika kurikulum di sekolah kurang menantang biasanya anak berbakat akan mencari rangsangan diluar kurikulum. Tidak jarang siswa berbakat yang berprestai kurang di sekolah dapat mencapai keunggulan di dalam kegiatan yang tidak berhubungan dengan sekolah.


Mengatasi Underachievement

Menurut Rimm (1985) mengatasi underachievement memerlukan strategi kerja sama antara sekolah dan keluarga dalam menerapkan lima langkah yang penting, yaitu:

1.      Penilaian, Kemampuan, Keterampilan dan Kemungkinan Penguatan Rumah dan Sekolah
Langkah pertama untuk mengatasi prestasi kurang dari anak berbakat adalah meliputi kerja sama antara psikolog sekolah, guru, dan orang tua.

Untuk mengetahui kemampuan anak sesungguhnya, sebaiknya pertama-tama memberikan tes intelegensi individual. Pengetesan intelegensi perlu dilanjutkan dengan tes prestasi individual yang menunjukan kekuatan dan kelemahan dalam keterampilan dasar, terutama membaca dan matematika.

Wawancara dengan orang tua membantu untuk menemukenali pola berprestasi kurang yang nyata di sekolah dan di rumah. Sebaiknya kedua orang tua diwawancarai, apabila salah satu orang tua tidak dapat hadit, perlu dipertanyakan bagaimana keharmonisan anak dengan orang tua yang tidak dapat hadir tersebut

2.      Modifikasi dari Penguatan Di Rumah dan Di Sekolah

Dari langkah pertama dapat ditemukenali keadaan di rumah dan di sekolah yang menyebabkan anak berprestasi kurang. Perilaku anak perlu diubah dengan menentukan tujuan jangka panjang dan beberapa sasaran jangka pendek yang menjamin anak mengalai keberhasilan langsung. Pengalaman keberhasilan ini perlu diberikan penghargaan atau award.



3.      Mengubah Harapan dari Orang yang Penting/Berarti

Hasil tes intelegensi yang tinggi sangat efektif untuk mengubah harapan. Guru dapat meyakinkan remaja dan orang tua bahwa anak memiliki bakat. Psikolog berdasarkan tes bakat dan prestasi dapat meyakinkan guru tentang kekuatan-kekuatan anak. Dan yang paling penting adalah orang tua. Harapan dari orang tua yang berarti bagi anak sangat penting untuk mengubah harapan diri anak dari seorang yg kurang berprestasi menjadi prestasi  tinggi.

4.      Model Identifikasi yang Ditinggalkan

Menemukan model identifikasi bagi anak berprestasi kurang sangat penting melibihi upaya treatment yang lainnya. Anak berprestasi kurang memerlukan tokoh yang berhasil dan berprestasi sebagai model. Dengan meninggal model identifikasinya anak menjadi lebih percaya diri dengan kemampuannya sendiri.

5.      Memperbaiki Keterampilan yang Kurang

Anak berbakat kurang berprestasi sebenarnya cepat dalam memperbaiki kekurangan-kekurangan akademisnya. Dengan batuan tutor dari luar anak tersebut sudah dapat memperbaikinya dengan cukup mudah.

Namun ada beberapa anak berbakat berprestasi kurang yang terlibat dalam masalah-masalah seperti drug, alkohol, kriminalitas dan lain sebagainya. Alternatifnya adalah dengan menempatkan mereka ke dalam sekolah berasrama dengan kesempatan pendidikan dan taraf psikologi dalam lingkungan yang terkendali yang dimana mereka dapat mengikuti terapi kelompok termasuk tekhnik modifikasi prilaku untuk mengatasi masalah pribadi dan underachievement.


Semoga bermanfaat, hargai hasil karya orang, budayakan post comment.
Read More
Posted in Psikologi | No comments
Newer Posts Home
Subscribe to: Comments (Atom)

Popular Posts

  • Computer Supported Cooperative Work
    Istilah Computer Supported Cooperative Work (CSCW) pertama kali digunakan oleh Irene Greif dan Paul M. Cashman pada tahun 1984 pada sebuah w...
  • KOMUNITAS VIRTUAL
    A. Komunitas Online Komunitas online adalah suatu perkumpulan yang yang memiliki satu kesamaan hobi, pekerjaan atau hal penyatu lainnya deng...
  • Manfaat Positive dan Negative Penggunaan Internet Secara Individual
    Dulu sebelum internet marak digunakaan orang, saya sebagai pelajar sangat kesulitan mengerjakan tugas-tugas yang diberikan sekolah, karena t...
  • INTERNET ADDICTION
    Di dunia sekarang internet sudah menjadi kebutuhan sekunder masyarakat. Pagi hari, ketika kita baru bangun tidur tidak jarang orang meng-upd...
  • ANAK PEREMPUAN BERBAKAT
    1.       Perbedaan Antarjenis Kelamin Perbandingan peredaan biologis versus social-budaya antarjenis kelamin merupakan dasar yang baik untuk...
  • KEBUTUHAN MANUSIA TERHADAP INERNET
    Untuk masyarakat perkotaan, internet bukanlah hal yang asing. Diibaratkan internet adalah kendaraan bagi para penjelajah dunia. Kita bisa ke...
  • INTERNET
    SEJARAH INTERNET Sejarah intenet dimulai pada 1969 ketika Departemen Pertahanan Amerika, U.S. Defense Advanced Research Projects Agency(D...

Categories

  • Psikologi

Blog Archive

  • ▼  2012 (10)
    • ►  November (2)
    • ►  October (3)
    • ►  September (1)
    • ►  May (2)
    • ▼  April (2)
      • KARAKTERISTIK KEPRIBADIAN YANG MENYEBABKAN ANAK KU...
      • UNDERACHIEVEMENT (Anak Kurang Berbakat)
Powered by Blogger.

About Me

Unknown
View my complete profile